 |
Foto: @indoflashlight
|
Di sebuah pedesaan yang begitu indah, dengan sawah-sawah
yang sudah berwarna kuning siap untuk dipanen serta para petani yang sedang
bercocok tanam membuat pedesaan itu terasa lebih hidup serta didukung juga
dengan cuaca yang sangat menyejukkan. Dikisahkan ada sebuah keluarga yang sangat
berbahagia yang sedang berkumpul dengan keluarga kecilnya yaitu nenek, ayah,
ibu, dan anak-anaknya di teras depan rumah sedang berbincang-bincang
membicarakan masa depan.
Jaka: “Sekarang kan lagi pada kumpul kebetulan ada
yang abah mau omongin sama ambu juga sama anak-anak kita, tolong panggilin
anak-anak dulu yang sedang main di belakang rumah .” Ujar suaminya.
Dahlia: “Ada apa bah, paling dongeng kan? Baik ambu
panggilin.” Ujar istrinya sambil kebingungan.
Dahla: “Lilis, Adanggg, Nenden udah dulu mainnya ada
yang mau di obrolin dulu sebentar di teras,” Ujar ibunya sambil teriak,
Lilis: “Ambu Lilis sama adik-adik tuh lagi asik-asiknya
main malah dipanggil.” Memasang muka cemberut.
Dahlia: “Jangan gitu sayang, nanti mainnya dilanjut lagi
deh setelah ngobrol-ngobrol, ayuk, ayuk nanti abah marah loh, nanti gak bakal
dikasih jajan lagi.” Ucapnya lembut.
Adang: “Janganlah ambu, makanya Teh Lilis turutin aja
kata ambu.” Ucap sang adik sambil menyenggol kakaknya.
Jaka: “Sini duduk dulu udah abah siapin tikar sama
makanan, nenek udah nungguin dari tadi.” Ucapnya.
Nenden: “Yeyeyeyeye ada banyak makanan.” Riang
gembira.
Nenek: “Nenden emang semangat kalau ada makanan.”
Ucapnya sambil ketawa.
Adang: “Abah mau ngobrol apa?” Ucapnya kebingungan.
Jaka: Abah mau cerita nih tentang “Jadilah Pintar dan
Rajin” mau ngedengerin gak?” Sambil menepuk pundak Lilis.
Lilis, Adang, Nenden: “Mauuuuuuuuuuuu dongggg.” Sangat
Bersemangat.
Jaka: “Dahulu kala ada seorang penyihir bernama Fadra.
Dia memiliki dua orang murid bernama Idri dan Odra. Karena Fadra sudah semakin
tua, Idri dan Odra saling bersaing untuk menggantikan posisi guru mereka. Pada
saat itu, penyihir adalah profesi yang sangat penting. Penyihir membantu warga
desa memperbaiki barang, menyembuhkan penyakit, mencari benda yang hilang, dan
melakukan banyak hal berguna lainnya. Karena itu, orang-orang sangat
menghormati penyihir. Idri yakin dia akan menjadi penyihir yang baik. Dia
berasal dari keluarga berada, tampan, dan rajin belajar. Dia selalu mencatat
dengan rajin dan teliti semua yang diajarkan gurunya. Odra juga yakin dia akan
menjadi penerus yang baik. Dia sangat kuat dan cepat. Suatu hari, Fadra hendak
pergi mengumpulkan bahan ramuan ajaibnya, yang hanya bisa diperoleh di bagian
terdalam hutan. Idri dan Odra merasa ini kesempatan yang bagus untuk mengambil
hati guru mereka, maka keduanya mengajukan diri untuk ikut. Mereka berangkat
pagi-pagi. Itu adalah perjalanan Idri dan Odra yang pertama ke dalam hutan.
Mereka amat bersemangat. Mina, pembantu Fadra juga ikut.
Nenek: “Nenek ngantuk sama gak kuat kalau duduk
lama-lama jadi nenek mau ke kamar duluan yah dengerin baik-baik biar kalian
bisa bercerita didepan kelas, biar jadi anak yang cerdas.” Sambil tersenyum.
Lilis: “Siapppp nenek.” Bersemangat.
Jaka: Lanjut lagi yah ceritanya. Siang harinya, mereka
merasa lapar. Odra segera berkeliling mencari buah-buahan untuk dimakan. Dengan
kekuatan dan kecepatannya, dia berhasil mengumpulkan banyak buah dalam waktu
singkat. Tapi ketika Mina melihat buah-buahan itu, dia langsung membuangnya.
"Hei, kenapa kau lakukan itu?" tanya Odra. "Buah -buahan Itu
beracun" kata Mina. Lalu dia pergi mengumpulkan buah, bunga, dan
akar-akaran yang bisa dimakan, lalu memasak makanan lezat. Malamnya, mereka
harus mendirikan tenda. Idri mengajukan diri. Tapi ternyata tidak semudah yang
dia kira. "Guru, bagaimana kalau aku menelepon agar ayahku mengirimkan
tenda langsung jadi?" tanya Idri. Idri mengeluarkan telepon genggamnya,
tapi tidak ada sinyal di hutan. "Ayo, kutunjukkan bagaimana caranya!"
kata Mina. Idri memandang Mina tidak percaya. Tapi Mina benar-benar berhasil
mendirikan tenda-tenda itu. Saat tengah malam, mereka dibangunkan oleh suara
hewan yang aneh. Di luar tenda terlihat seekor binatang yang sepertinya buas.
Odra, yakin akan kekuatannya, bersiap untuk bertarung. Tapi Mina menyuruhnya
mundur. Dia lalu memetik beberapa daun berbentuk aneh dari sebuah pohon di
dekatnya dan berjalan perlahan ke arah binatang itu. Binatang itu memakan daun
pemberian Mina dan pergi.
Jaka: “Masih mau dilanjut gak?” Sambil menggoda
anaknya.
Adang,Nenden: “Mau dong abah lanjutin sampai selesai.”
Jaka: ” Siap, Keesokan harinya, mereka sampai di
tujuan. Idri kagum melihat cara kerja Mina yang ringkas dan teratur. Ketika dia
masih mempelajari buku catatannya, Mina sudah mengumpulkan banyak bahan dan
memasukkannya ke dalam tempat-tempat berlabel.
Dalam perjalanan pulang, Idri dan Odra menanyai Mina.
"Mina, ini kan juga perjalanan pertamamu. Bagaimana kamu bisa tahu mana
buah yang beracun dan tidak?" tanya Odra."Aku mengamati hewan-hewan
kecil di sepanjang perjalanan. Lalu kucatat buah mana yang mereka makan,"
katanya. "Bagaimana dengan tendanya? Bagaimana kau bisa mendirikannya
dengan begitu mudah?"tanya Idri. "Aku membaca manual cara mendirikan
tenda sebelum kita berangkat," kata Mina sambil tersenyum. "Bagaimana
dengan binatang aneh yang datang di malam hari itu?"tanya
Odra,"bagaimana kau tahu dia hanya mencari daun aneh?""Aku
melihat beberapa binatang itu di sepanjang perjalanan. Mereka selalu mengunyah
daun itu. Dan dilihat dari susunan giginya, mereka adalah hewan pemakan
tumbuhan jadi aku tahu hewan itu tidak berbahaya,” jawab Mina.Fadra berbicara
pada kedua muridnya. "Jika kalian ingin menjadi penyihir, kalian harus belajar banyak dari
Mina! Jika tidak, mungkin penyihir berikutnya adalah penyihir wanita,"
katanya sambil mengedipkan mata ke arah Mina. Odra dan Idri sating memandang.
Pelayan yang selama ini tidak pernah mereka perhatikan ternyata seorang gadis
yang pintar. Mereka memang harus belajar banyak darinya! Sumber cerita "Jadilah Pintar dan Rajin": https://indolinear.com/dongeng-cerita-memotivasi-anak-jadilah-pintar-dan-rajin.html
Jaka: “Selesai deh ceritanya gimana seru gak?” Ucapnya
Lilis, Adang: “Seru banget pokoknya pemainnya
seru-seru.” Bersemangat
Nenden: “Aku gak ngerti tapi liat abah cerita kayak
gitu, seru aja.” Sambil tersenyum
Dahlia: “Apakah artinya Berpikir Cerdas? Artinya kita
selalu berpikir ke depan dan penuh persiapan, selalu memperhatikan sekeliling
kita untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dan memanfaatkannya; selalu
tahu apa yang harus kita lakukan dalam segala keadaan.” Menepuk anak-anaknya.
Lilis: “Siap ambu Lilis akan jadi anak pintar biar
ngebanggain ambu sama abah.” Mememluk ambu dana bah.
Jaka: “Abah mau nitip pesen buat anak-anak abah
terutama buat Adang karena satu-satunya anak laki-laki abah jaga teteh sama
adik, jangan sampai kalian berantem. Setelah besar Adang harus bisa mengelola
ruko sama pertanian abah, Lilis sama Nenden juga bantuin Adang suapaya
semangat.” Ucapnya
Adang: “Siap abah Adang jagain teteh dan adik Adang,
kan Adang kuat.” Sambil ketawa
Perbincangan yang cukup panjang membuat keluarganya
menjadi terasa lebih hidup dan harmonis. Mendongengkan cerita kepada
anak-anaknya sudah hal yang menjadi biasa bagi abah dan ambu, abah dan ambu sangat
yakin bahwa dengan membacakan dongeng untuk anak akan membuat ikatan kasih
sayang antara orang tua dan anak semakin kuat. Namun setelah beberapa hari
kemudian sang ayah mengalami kecelakan dan mengalami serangan jantung.
Kebahagian mereka terasa terenggut setelah mendengar ayahnya dibawa ke rumah
sakit, suasananya pun menjadi keruh dan penuh dengan kekhawatiran.
Euis: “Dahlia suami kamu kecelakan tadi, sekarang sudah
menuju perjalanan ke rumah sakit sama warga.” Sambil teriak kepanikan
Dahlia: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,
Astagfirullah Euis kok bisa kecelakaan gitu? Is jaga anak-anak teteh sama
nenek, teteh ke rumah sakit sekarang.” Sambil nangis terburu-buru
Setelah beberapa hari dirawat sang ibu mendengar kabar
buruk yaitu suaminya meninggal dunia.
Pihak RS: “Assalamua’laikum, mohon maaf malam-malam
sudah menghubungi ibu, ini dengan nomor pasien 12 yang bernama Jaka, apakah ini
dengan istrinya? Boleh bisa bicara sebentar?” Dengan ramah tamahnya
Dahlia: “Iya betul, apakah suami saya baik-baik saja?
Tadi saya pulang sebentar untuk menengok anak-anak saya dulu.” Dengan paniknya
Pihak RS: “Mohon maaf tadi warga yang menjaga
paseinnya sudah pulang karena ada kepentingan mendadak, mohon maaf juga ibu
atas berita duka yang saya sampaikan, suami ibu telah meninggal dunia karena
kecalakaanya sangat fatal dan pasien juga mengalami serangan jantung yang
kompleks, ibu yang sabar dan tabah semoga Allah menempatkan suami ibu di
termpat yang terbaik.” Sambil bergetar
Dahlia: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un,
Terima……..kasih,” Sambil nangis dan langsung menutup telponnya.
Setelah mendengar kabar itu langsung terasa lemas dan
tidak bisa berkata apa-apa, dia langsung pergi ke rumah sakit tanpa mengabari
siapapun sangking kagetnya, suaminya harus meninggalkan istrinya dan tiga anak
tercintanya, yang pertama perempuan berusia tujuh tahun masih Sekolah Dasar,
yang kedua laki-laki berusia empat tahun, dan yang paling kecil berusia dua
tahun. Setelah tiba di rumah sakit istrinya langsung pingsan setelah melihat
keadaan suami yang sudah tidak bernyawa, setelah sadar istrinya langsung
memberi tahu kerabat-kerabatnya, kedua anaknya namun tidak memberi tahu ke anak
bungsunya karena terlalu kecil, serta warga agar bisa mempersiapkan makam dan segala
yang dibutuhkan.
Bukan hanya isrtinya saja yang sangat terpukul namun
anak-anaknya juga karena mereka masih membutuhkan sosok seorang ayah untuk bisa
menguatkan sang anak ketika terjatuh. Setelah berduka istrinya meneruskan usaha
ruko dan pertaniannya yang dirintih oleh suaminya. Perekonomiannya cukup
stabil, namun setelah dua tahun ditinggalkan suaminya, lahan pertanian yang
menghasilkan banyak omset sekarang mengalami musibah besar ladangnya mengalami
kebakaran semua padi, tanaman, dan segala jenis pohon pun habis.
Dahlia: “Inna lillahi, kenapa ini ladangnya bisa
kebakar semuanya Ep? Rugi besar kita.” Terheran-heran
Suep: “Saya tidak tahu penyebab pastinya, namun
setelah saya cek ada bekas rokok yang dibuang sembarangan yang mengakibatkan
apinya menjadi semakin besar, apalagi sekarang musim kemarau juga anginya
sangat kencang dan cuacanya lagi panas-panasnya. Ladang kita terkena sinar
matahari langsung jadi mudah untuk terbakar.” Ucapnya
Dahlia: “SubhanaAllah, kebiasan orang-orang abis
ngerokok buangnya dimana aja, ladang kita yang jadi rugi. Mungkin ini juga
musibah dari Allah kita hanya berusaha dan bisa berserah diri. Ep, tolong mulai
sekarang bersihkan semua ladang dan tanam kembali semuanya. Pupuk yang sudah
habis beli lagi, kita mulai lagi dari awal, mungkin ini akan terasa susah
karena cuacanya juga tapi kamu harus bisa berusaha Ep, saya serahkan semuanya
ke kamu karena kamu satu-satunya kepercayaan suami saya,” Dengan tegas
Suep: “Siap bu saya kerjakan semampu saya.” Ucapnya
Setelah Suep menanam kembali semua tanaman dan padi
tetap saja tidak ada perubahan. Dahlia langsung mentindak lanjuti dengan
mendatangkan pakar tanaman yang di kota.
Dahlia: “Jadi gimana pak, pegawai saya sudah mencoba
dengan berbagai cara namun tak kunjung tumbuh tanamannya. Saya sangat tidak
tahu harus berbuat apa lagi, karena uang modal saya semakin menipis untuk
mengurus semua ladang yang sangat besar. Kerugian yang sangat besar membuat
perekonomian saya jadi turun drastis.” Ucapnya sedih
Pak Anton: “Tanah yang ibu tanam ulang tidak akan
tumbuh karena setelah terbakar tanahnya harus di olah terlebih dahulu jangan
hanya dipapas dengan tidak diberikan strategi lain. Tanah yang mati disebabkan sudah
terbakar dan tercampur dengan sisa-sisa bekas-bekas apapun, seperti pagar,
tanaman, pengelolaan ataupun yang lainnya. Menghidupkannya berarti mengelola
tanah dengan menanamnya, ataupun menjadikan tanah tersebut siap untuk langsung
ditanami. Nanti saya dan tim akan membantu ibu, kerugian dalam berwirausaha
sangatlah wajar kita tidak akan pernah terus maju ada masanya kita jatuh sabar saja
pasti ada hikmahnya.” Ucapnya
Dahlia: “Iya pantes aja tanamannya gak tumbuh-tumbuh,
terimakasih pak.” Ucapnya
Perubahan ladangnya tidak begitu cepat untuk memulihkan
kembali butuh beberapa bulan setelah tujuh bulan ladangnya kembali pulih
seperti semula perekonomiannya pun semakin meningkat, menjadi punya ladang yang
lebih luas lagi. Dibalik musibah pasti selalu ada hikmah yang didapat.
Suep: “Bu,, Alhamdulillah yah makin lancar lagi ladang
kita, bu gimana kalau kita adain ladang di perkotaan agar ladang kita makin
maju?” Ucapnya
Dahlia: “Paling kalau ke kota ruko aja yang di bangun
kalau ladang pasti sudah penuh dengan gedung-gedung yang tinggi baiknya ruko
aja yang ditingkatkan kualitasnya. Kamu saja yang bangun tempatnya Suep di kota
yang masih jarang rukonya tempatnya juga pastikan banyak masyarakat. Sekalian
itu ruko yang di kota buat kamu aja biar saya kasih modal” Ucapnya
Suep: “Loh kok gitu bu, saya tidak meminta ruko yang
di kota buat saya.” Terheran-heran
Dhalia: “Iya gakpapa kamu sudah mengabdi sama keluarga
saya sudah beberapa tahun samapai suami saya meninggal juga kamu tetep jujur
dan keraj keras.” Ucapnya
Suep: “Terimakasih banyak bu.” Ucapnya sambil riang
gembira
Setelah Suep membangun ruko di kota Jakarta sudah berjalan
dua tahun, rukonya melambung pesat dan yang didesa juga semakin melambung pesat
karena kegigihannya. Suep juga harus bulak balik ke kota dan desa untuk
membantu Dahlia.
Anak yang paling besar Lilis sudah bisa membatu ibunya
menjalankan bisnins, apalagi Adang walaupun belum remaja sudah bisa menjalankan
bisnisnya dengan diajari oleh Suep. Mereka menjalankan amanat dari ayahnya yang
sudah meninggalkan mereka beberapa tahun yang lalu. Di saat mereka sedang merindukan
sosok ayahnya Suep selalu menghibur mereka dan mereka juga sudah menganggap
sebagai ayah tirinya. Suep juga karena sering mengabdi kepada keluarga Jaka,
hingga lupa untuk mencari jodoh hingga saat ini Suep masih sendiri di umur 32
tahun. Suatu ketika anak pertamanya Dahlia bertanya bahwa ibunya harus
mempunyai pendamping agar tidak kesepian dan ada yang membantunya.
Lilis: “Ambuuuuuuuuuu, teteh mau ngomong sesuatu ke
ambu tapi jangan marah yah.” Sambil menggoda.
Dahlia: “Apa omongin aja biasanya juga suka cerita
kalau ada apa-apa, ini paling mau minta duit nih.” Terheran-heran
Lilis: “Eitsssssss ngga lah, ambu, ambu kalau ambuuu
menikah lagi gimana? Bisnis ambu kan sudah luas, teteh takut kalau ambu
kecapean.” Sambil bersedih
Dahlia: “Hmmm, ambu sudah tua mana ada yang mau sama
ambu,, lagian ambu gak puya waktu mikiran yang kayak gitu. Nah yang sudah
pantes itu kamu, langsung nikah aja jangan pacaran ambu setuju kamu nikah muda,
udah ada belum calonnya? Kalau belum nanti ibu cariin.” Sambil tersenyum
Lilis: “Aapaaann sih ambuu.” Ucapnya sambil kesal
Setelah perbincangan ini Dahlia langsung merenungkan
kembali perkataan anaknya, sebenarnya Dahlia sudah banyak yang meminang namun
tidak ada yang bisa memikat hatinya. Dahlia juga entah kenapa sangat mengagumi
kinerja Suep yang sangat bertanggung jawab juga pekerja keras. Setelah Dahlia
memikirkan hal ini keesokan harinya Suep ingin melamar Dahlia walaupun ini
terlihat tidak mudah.
Suep: “Bu Dahliaaa, bolehkah saya bertanya sesuatu?”
Sangat gugup
Dahlia: “Ada apa Ep? Udah lah kamu jangan panggil saya
ibu lagi kita juga seumuran satu SMA satu kelas juga teman baik suami saya
juga” Ucapnya
Suep: “Heheheh iya bu, ehh maaf. Jadi gini Dahlia saya
ingin melamar kamu, apakah bersedia?” Sambil gemetaran
Dahlia: “Eeepp, kenapa tiba-tiba gini?” Terheran-heran
Suep: “Ngga tiba-tiba cuman saya sudah memendam
perasaan ini sejak lama Dahlia.” Ucapnya
Dahlia: “Kalau aku butuh persetujuan dari anak-anak.”
Ucapnya
Setelah perbincangan ini nenek dan anak-anaknya
dikumpulkan di ruang tamu untuk dimintai persetujuan.
Suep: “Bismillahirahmanirahim, nek saya mau minta
restu untuk menikahi anak nenek apakah di restui nek?” Ucapnya
Nenek: “Alhamdulillah nenek sangat merestui hubungan
kalian berdua, tapi kamu harus bisa membahagiakan anak-anak dari Jaka.” Ucapnya
Suep: “Saya janji nek akan megurus mereka seperti anak
kandung saya sendiri, terimakasih banyak atas restunya.” Memeluknya terharu.
Suep: “Sekarang mau minta restu dari Lilis, Adang, dan
Nenden mau gak jadi abah kedua kalian?” Ucapnya bahagia
Lilis,Adang: “Alhamdulillah mau bangettt lah seneng
asli, kang Suep dari dulu juga udah dianggap kayak abah sendiri bagi kita
walaupun tetep abah nemor satu.” Ucap mereka
Nenden: “Yeyeyeye punya abah baru, tapi Nenden mau
minta uang tambahan buat jajan.” Ucapnya sambil ketawa
Dahlia: “Sayang jangan gitu, gak sopan.” Ucapnya
lembut
Suep sebenarnya sudah mencintai Dahlia sejak dibangku
SMA, Jaka teman baikknya Suep, namun Jaka yang duluan melamar Dahlia karena
Suep waktu itu tidak punya mental untuk menyatakannya. Jaka juga tidak tahu
bahwa dia mencintainya. Setelah perbincangan dengan pihak keluarga mereka
langsung mengadakan akad pernikahan dan resepsi. Pernikahan mereka berujung bahagia
dan Dahlia merasa seperti hidup kembali karena hari-harinya sekarang dihiasi
oleh suami barunya yang sangat mencintai dan bertangung jawab. Setelah dua
tahun menikah mereka sudah dikarunia anak laki-laki yang sangat gagah dan
rupawan.